Rabu, 05 Mei 2010

Antara Adzab dan Cobaan Yang Berkaitan Dengan Pemahaman Rukun Iman dan Rukun Islam

Antara Adzab dan Cobaan Yang Berkaitan Dengan Pemahaman Rukun Iman dan Rukun Islam

Mengutip apa yang dikatakan Ustadz Drs. AF Gajaly, SH dalam salah satu ceramahnya bahwa kaum muslimin harus
dapat membedakan mana cobaan dan mana adzab. Meski kedua-duanya sama, tetapi tidak serupa, hal ini bertalian
dengan upaya mencari jalan keluarnya. Antara cobaan dan adzab memiliki obat penawar yang berlainan.
Cobaan hanya berlaku bagi kaum Mukminin, sedangkan adzab berlaku bagi siapa saja yang bukan Mukmin. Adzab memberikan peringatan agar anak manusia kembali kejalan-Nya, sementara cobaan memberikan ukuran antara tingkatan keimanan. Semakin tinggi tingkat keimanan, dengan sendirinya semakin berat cobaan yang diterimanya.
Persis apa yang diibaratkan Dai sejuta umat (KH Zainudin MZ), "Semakin tinggi keimanan seorang hamba semakin besar cobaan yang diterimanya, sebagaimana pohon yang berukuran tinggi, makin tinggi tiupan angin semakin kuat•.
Oleh karena itu amat sangat keliru bila da'wah kemudian mengikuti selera umat yang kondisinya lemah iman, seperti dewasa ini umat terjangkit penyakit, "Al-Wahn", penyakit, "Cinta dunia, takut mati", seperti diungkapkan oleh baginda Nabi saw. dalam salah satu haditsnya. Beliau wanti-wanti, agar umat Islam waspada terhadap sikap hati yang enggan'berkorban demi daawah, tetapi royal dan glamour untuk Gaya hidup.
Siapa Kena Cobaan ?Sebagaimana diutarakan di atas hanya orang yang "beriman yang bakal menerima cobaan, selain itu cobaan tidak berlaku.
Hal ini terdapat dalam firman-Nya, artinya, "Dan sungguh Kami (Allah) akan menguji kalian (orang beriman),
sehingga Kami melihat siapa diantara kalian yang benar-benar sebagai mujahidin, dan siapa pula diantara kalian orang orang yang shabar, dan Kami sungguh akan membeberkan isi hati kalian". Qs Muhammad: 31.
Sabda Nabi saw., artinya, "Sesungguhnya besarnya pahala itu beserta besarnya cobaan, dan apabila Allah mencintai
suatu kaum, maka Allah timpakan kepada mereka berbagai cobaan. Maka siapa yang ridha dengan cobaan Allah itu,dia
akan diridhai oleh-Nya, dan siapa yang tidak ridha, Allah pun murka kepadanya". HR. Tirmidzi, Ibnu Majah. Silsilah
hadits Shahih, Syaikh Hasrudin Al Bani Juz I, hal. 276 No 146.
Tolok ukur cobaan adalah ketaatan, taat dalam beraqidah sebagaimana aqidahnya Baginda Nabi saw., tidak berbaur
dengan bid,âah anasir filsafat, idiologi sekuler dan berbagai pemikiran rancu lainnya.
Aliran pemikiran yang telah menyimpang dari garis ilmu dien (agama sebagai salafush shaleh) memahami Islam
tampaknya bukan lagi cobaan tetapi adzab. Pemahaman munkar itu sengaja dipublikasikan kelompok tertentu, yang
merupakan perpanjangan dari gerakan anti Islam. Siapapun orangnya, dimanapun, dan kapanpun mereka tetap
demikian (QS. Al Baqarah;120), sampai umat murtad baru mereka berhenti.
Demikian pula aspek syari'ah, akhlaq, muamalah, dan dawah, tidak boleh menyimpang dari manhaj Nabi saw.
Saat terjadi penyimpangan waktu itu posisinya bukan lagi mendapat cobaan, akan tetapi termasuk ke dalam adzab.
Itulah sebabnya kehati-hatian dalam menjaga keimanan sesungguhnya mutiara yang amat berharga, kala iman itu tiada sesungguhnya ia telah menjadi bangkai berjalan. Hidup hanya mendeposit dosa dan maksiat, apa yang didapat? Apa
untungnya? yang jelas semakin memperberat adzab akhirat.
Sosok manusia yang paling berat menerima cobaan ialah para Nabiyullah, para sahabatnya, tabi’in, tabi'ut tati'in, dan
generasi umat setelah mereka yang setia menapaki jalan Ke-Nabian (Silsilah Al-Hadits Shahih, oleh Syaikh Nasrudin Al Bany, hal. 273, No 143).
Keadaan ini akan terus berjalan tanpa ada pengecualian, semakin tinggi keimanan makin berat
cobaannya. Tetapi perlu diingat, beriman atau inkar sama-sama menerima malapetaka/musibah, yang beriman
dinamakan cobaan berakhir dengan pahala bagi yang ikhlas. Sedangkan bagi mereka yang kufur namanya adzab,
berakhir dengan Jahanam/Neraka bagi siapa saja yang inkar/murtad dari agama Allah.
Beda Antara Adzab dan Cobaan.
Harus dapat membedakan antara Adzab dan Cobaan, supaya dapat dicarikan penawarnya/solusinya. Dalam hidup
tataran informasi seperti sekarang ini salah mengambil kesimpulan terhadap musibah diri akan berdampak buruk
terhadap lingkungan. Era global, dimana segala bentuk informasi diberbagai belahan bumi cuma membutuhkan menit
untuk dapat didengar, dilihat dibagian lain bumi ini.
Firman Allah, artinya, "Bila kalian ditimpa luka-luka dalam peperangan itu, maka sungguh-sungguh kaum musuhmu
juga ditimpa luka semisalnya. Dan demikianlah, hari- hari menang dan kalah itu Kami gilirkan diantara sekalian manuaia.
Agar Allah melihat siapa di antara sekalian manusia yang beriman dan agar Allah memilih para syuhada (orang-orang yang terbunuh dalam peperangan membela agama Allah) dari kalangan kalian. Dan Allah tidak suka dengan orang-orang yang dzalim.
Dan juga agar Allah membersihkan barisan orang beriman dan binasakan orang-orang yang kafir".
QS. Ali Imran; 140-141.
Dari ini musibah bagi orang beriman adalah deposit pahala, pelebur dosa dan maksiat, sementara itu sifat umat jiwa manusia selalu berkeinginan agar selalu menang dalam peperangan. Lupa bahwa dibalik kekalahan yang dialami
hikmah besar yang tidak dapat diprediksi sebelumnya. Bila yang binasa orang beriman, ia termasuk barisan syuhada,
beruntunglah sebagai syuhada di jalan Allah. Tetapi bila ternyata yang binasa itu adalah kaum munafiqin, inipun tetap
beruntung secara keseluruhan bagi pasukan muslimin, sosok munafiqin adalah duri dalam daging. Bila dia tetap ada lambat laun akan merusak kekuatan iman kaum Muslimin, sebagaimana dibuktikan dalam tarikh Islam.
Bagaimana Dengan Musibah di Negeri Ini.
Kembali kepada tolok ukur agama, untuk dapat mengukur dan membedakan musibah di negeri ini cobaan atau adzab tiada jalan lain mengikuti standarisasi baginda Nabi saw. melalui manhaj generasi sahabat (salafus shaleh). Mereka amat rinci dalam segala perkara dan berhati-hati ketika harus beristimbath hukum, sehingga patut diikuti jejak langkah mereka dalam menda,wahkan Islam Sisi Aqidah Umat.
Kaum Muslimin di negeri ini aneka ragam pola pemahamannya terhadap aqidah Islam, di sini yang termasuk ushul agama adalah sebagaimana yang tertuang dalam hadits Bukhary-Muslim tentang rukun Iman dan rukun Islam.
Pemahaman terhadap rukun Iman dan rukun Islam menjadi titik tumpu alat ukur aqidah umat menyimpang atau tidaknya.
Di negeri ini ada yang mengaku sebagai Nabi baru, padahai setelah Muhammad saw. tidak ada lagi ke-Nabian, akan tetapi faham ini terus berkembang dengan model-model yang telah dimodivikasi. Berkembang pula Tauhid Mulkiyah, yang menitik beratkan kepada berdirinya sistim kenegaraan secara Islami. Negara dalam negara, faham ini menjadikan penguasa berang, tidak heran bila kemudian TKI dibenturkan dengan kelompok pendukung pemahaman ini.
Sisi Syariâah.
Adakelompok yang memutar balikan syari'ah mengikuti jejak para guru besarnya/kaum orientalis Barat, mereka membeo
kesana sehingga apa yang mereka lontarkan kepada umat Islam selalu mendatangkan masalah bukan solusi. Jilbab
ketinggalan zaman, Jilbab boleh kelihatan tangan, Jilbab identik dengan pakaian adat, Jilbab itu budaya Arab, dan
berbagai tuduhan yang halus hingga yang kasar.
Waris Islam tidak masuk akal, wanita boleh menceraikan suaminya, boleh kawin antar umat beragama sebebasmungkin, boleh wanita menjadi imam umat/Kepala Negara, Itu semua adalah pendapat kesasar, dan merupakan
perpanjangan pendapat golongan orientalis Barat (plagiat thingking).
Kumandang tuntutan hak wanita yang kelewatan merupakan pemikiran keblinger yang malah mendatangkan adzabAllah yang lebih besar sayangnya kaum Muslimin kurang peduli dengan program pengembangan pemahaman agama .
Sepertinya kehilangan kepedulian bila nilai-nilai ke-Islaman diporak porandakan oleh musuh-musuhnya, tetapi bakal
berang dan lupa diri ketika jabatan politisnya diusik.
Sisi Akhlaq
Akhlaq berbeda dengan moral, akhlaq, terikat dengan aqidah, sedangkan moral tidak ada ikatan dengan aqidah.
Orang tidak memiliki keyakinan agama, atau keyakinan agamanya setengah-setengah bisa dikatakan bermoral,
termasuk non Muslim boleh dan bisa saja bermoral. Tetapi bukan berakhlaq, sebab akhlaq terkait dengan aqidah agama
Islam sebagaimana pemahaman dan amaliyah baginda Nabi saw. tidak sembarangan pemahaman aqidah umat.
Sisi Muamalah
Sifat sosial kemasyarakat misi ke-Nabian memiliki citra tersendiri, meski respon terhadap persoalan sosial
kemasyarakatan tetapi sifatnya selektif memperbaharui. Artinya tidak kemudian mengikuti selera pasar, keinginan
budaya, kehendak masyarakat lokal, lebih dinamis lagi muamalah ala Nabi saw. Bersifat mengajak masyarakat untuk
hanya menjadi hamba Allah, bukan hamba thaghut.
Tradisi lokal menjadikan wanita itu obyek waris, mengubur bayi perempuan jelas tidak masuk akal sehat. Tetapi
tradisi itu tidak dapat hilang begitu saja, sebelum rona wahyu datang meluruskannya. Kalaulah bukan kalam Illahi yang
mengubah tradisi lokal nampaknya tradisi buruk mengubur bayi perempuan masih tetap berjalan. Species kaum
perempuan khususnya di Arab boleh jadi sudah punah, sehingga di wilayah tersebut hanya hidup kelompok kaum pria.
Anggapan anak angkat sama dengan anak kandung pun baru hilang setelah gema wahyu berjalan sekian lama,
demikian pula tradisi lokal lainnya bertahap dihilangkan satu demi satu. Yang paling menonjol adalah sistim perbudakan,
perbudakan berjalan dimana-mana tidak saja dalam lakon sosial masyarakat Arab jahili. Hampir di setiap tataran wilayah
pada saat alam kegelapan perbudakan berjalan beraneka ragam bentuknya. Yang jelas kaum perempuan adalah obyek
perbudakan yang paling menonjol, diperjual-belikan, ibarat harga barang. Habis manis sepah dibuang, hanya laku ketika
kondisi fisik wanita diusia muda, ketika usia makin tua wanita un jadi onggok sampah yang tidak ada harganya.
Sisi Dakwah
Ini adalah kisi paling penting dalam bingkai masyarakat, saat dawah tidak bergema bukan berarti kemajuan material
tidak berkembang. Bisa berbanding terbalik, disatu sisi gema dawah tidak ada, di lain sisi kemajuan material melejit
cepat. Katakanlah negara negara sekuleris Barat maupun Timur, kemajuan material diantara mereka berbarengan
dengan tingkat kehancuran yang terus mengintai kehidupannya.
Berbeda dengan masyarakat yang peduli da’wah, meski tingkat kemajuan materi belum secepat masyarakat sekuler.
Dari sisi kedamaian dijamin membentuk masyarakat yang peduli akan nilai-nilai sosial, peduli terhadap masyarakat kelas
bawah karena da'wah memang ditujukan untuk meningkatkan kepedulian terhadap kehidupan sosial masyarakat.
Di masyarakat bangsa kita dawah nilainya telah memudar, yang semestinya jadi tuntunan, malahan menjadi tontonan.
Da'i yang digandrungi masyarakat bukannya juru dawah yang berkualitas Imani, tetapi da'i dagelan yang
kemampuannya membuat jamaahnya tertawa terpingkal pingkal. Kondisi seperti ini sesungguhnya sangat berbahaya,
hanya saja tidak terasa secara langsung, akan tetapi lambat laun. Dimana umat Islam akan kehilangan kepercayaan
dirinya terhadap kehandalan syari'at agamanya sendiri.
Secara umum (agama) musibah yang dialami bangsa kita adalah adzab, akibat dosa dan maksiat yang tidak mau
dihentikan. Secara khusus musibah itu adalah cobaan, sebab ada kelompok-kelompok kecil yang istiqamah/taat
mengikuti jejak salafush shaleh. Wallahulam bishawwab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar