WAJAH PERPOLITIKAN INDONESIA
Kalau saat ini terjadi kemacetan komunikasi politik, persaingan yang mengeras antar elit ataupun semakin meningkatnya kekerasan dan ketidakpercayaan di masyarakat terhadap pemimpinnya. Ini dikarenakan runtuhnya nilai moral dalam perpolitikan di Indonesia. Dmana para pemangku kebijakan di Negara ini menyibukkan diri dengan urusan dan masalah yang bukan masalah prioritas di negara ini dan terjadinya persaingan elit di tingkat pusat maupun di tingkat lokal. Hanya saja, bagi Rakyat Indonesia Reformasi yang sudah berjalan 12 Tahun terakhir ini telah memaparkan kekontrasan yang terjadi secara kasatmata. Dahulunya tak ada demonstrasi, sekarang hampir setiap hari orang berunjuk rasa, bahkan disertai tindakan yang cenderung anarkis seperti membakar dan merusak. Demonstrasi dalam Demokrasi sah-sah saja, namun harus beretika. Dulu mencari makan tak sesusah sekarang, dulu politisi kompak tak suka saling caci, tapi sekarang saling caci, saling tuding dan saling hujat.
Orde Baru tumbang kepemimpinan negeri ini dijalankan oleh BJ. Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati dan Susilo Bambang Yudhoyono. Ketika kepemimpinan Soeharto tumbang, begitu tinggi harapan masyarakat bahwa akan terjadi perubahan sosial yang berpihak kepada rakyat. Sekarang, selaras dengan itu, kekecewaan rakyat juga begitu dalam saat melihat harapan mereka semakin jauh dari kenyataan.
Jangan-jangan kultur kita memang belum siap untuk melakukan perubahan sekaligus yang siap kita ubah hanyalah pada tataran kebijakan atau kelembagaan, sehingga kita tergoda oleh resep-resep jangka pendek. Kita terlalu terburu-buru untuk menawarkan alternatif tanpa melihat akar persoalan secara lebih mendalam. Dengan kata lain kita terjebak dengan pola pola tambal sulam.
Muncullah pernyataan dari kita semua yang menghunjam, bahwa apa yang terjadi saat ini di Indonesia bukanlah reformasi, tetapi demokrasi liberal yang jelas-jelas tidak bisa mensejahterakan rakyat. Perlu diingat, suatu negara tak akan bisa berdemokrasi apabila rakyatnya lapar, karena yang akan terjadi adalah anarki. Apakah ini berarti Indonesia kembali membutuhkan sebuah pemerintahan yang otoriter? Bangsa Indonesia akan berhenti menjadi bangsa jika di pimpin oleh cara otoriter.
Demokrasi sangat penting bagi Negeri ini,Demokrastisasi memang telah membuka ruang publik yang begitu lebar sehingga mempertontonkan persaingan dan peseteruan di tataran lokal maupun nasional secara gamblang. Namun, itu haruslah diterima sebagai bagian dari proses pembelajaran
Tidak ada komentar:
Posting Komentar